Sebenernya udah lama pengen bikin cinnamon roll. Bayangin wangi gula palem bercampur kismis dan kayu manis... pasti makyus banget. Aku baca-baca resepnya seperti biasa di blog Mbak Hesti. Trus kemaren Dek Isti, adek kelas SMA, posting cinnamon roll bikinannya di FB. Bahan-bahannya lebih simpel daripada resep Mbak Hesti. Wah makin menjadi-jadi deh penasarannya untuk bikin roti ini. Apalagi dulu sempet pengen nyobain cinnamon roll deket kantor Bandung yang katanya enak, tapi gak kesampean juga sampe pindah ke Jakarta.
Okeeee mari kita mulai bikin. Bahan-bahannya ikutin Dek Isti, trus cara pembuatannya nyontek Mbak Hesti. Termasuk ragi yang dikembangin dulu di air hangat sebelum dicampur di tepung dan diuleni.
Bahan:
200 gram terigu protein tinggi (untuk roti)
1 butir telur 4 gram (1,3 sdt) ragi (misalnya Fermipan)
20 gram gula
3 gram garam
20 gram mentega (aku pake margarin)
100 ml air hangat
Isian:
Mentega/margarin cair buat ngolesi permukaan adonan cinnamon roll sebelum digulung
Gula palem
Kismis
Kayu manis bubuk
Olesan:
Kuning telur dan susu cair
Cara bikin:
* Campur tepung terigu dan gula. Di tempat terpisah, rendam ragi dengan air hangat sampai mengembang. Abis itu campur dengan adonan kering dan telur, uleni.
* Masukkan air hangat sedikit demi sedikit sambil terus diuleni. Terakhir masukkan garam dan mentega/margarin, terus uleni sampai kalis dan elastis. Kalau nguleninya pake tangan, ya kira-kira tandanya sampe tangan kram atau encok gitulah. Hehehehe, ngaco!
* Buletin adonan, diemin di wadah yang ditutup serbet lembab atau plastik. Tunggu sampai mengembang dua kali lipat.
* Setelah mengembang, kempeskan dan pipihkan adonan di atas talenan yang udah dioles sedikit mentega/margarin (kalow aku tak taburin sedikit tepung). Olesi permukaannya dengan mentega (aku ga pake oles-oles), trus taburi gula palem, kismis, dan kayu manis bubuk).
* Gulung, lalu potong-potong dan tata di atas loyang yang udah diolesi mentega/margarin.
* Tunggu sampe mengembang dua kali lipat. Olesi dengan bahan olesan, oven dengan suhu 200 derajat celsius 10-15 sampai kuning kecokelatan.
Yang terjadi denganku, ternyata aku melewatkan tahap mengoles roti dengan campuran kuning telur dan susu sebelum dioven. Alhasil, roti yang udah kupanggang di suhu 200 derajat celsius dan lebih lama dari waktu yang tertera di resep, tetep aja pucat pasi. Nggak bisa kuning kecokelatan seperti di bakery-bakery. Padaal, olesan itu konon menurut Dek Isti dan temen sebelahku di kantor berfungsi memberi efek kuning kecoklatan pada roti. Yang kulakukan adalah mengoles roti yang udah mateng dengan margarin. Itu aku baca dari resep cinnamon roll mana, aku lupa. Begini ini kalow contek sana-sini, bingung sendiri.
Tekstur rotinya sendiri empuk, rasanya juga enak. Roti yang kalow dimakan begitu aja tawar berpadu manis dengan manis gula palem, manis-asem kismis, dan wangi kayu manis. Tapi nggak tau ya kalow dimakan besoknya. Hehe. Yaaa, walopun belum bisa dibilang sukses, rasa penasaran dan kram di tangan terbayar. Yang pasti nggak akan kapok bikin lagi. Semangaaaat!!!
Saturday, April 13, 2013
Friday, April 12, 2013
Muffin Cokelat Kismis dan Konversi Ukuran
Euforia punya oven listrik masih berlanjut, sodara-sodara. Jadi jangan
bosan-bosan ya, hehe. Kali ini aku bikin muffin cokelat kismis. Resepnya
dapet di Ordinary Kitchen punya Mbak Ricke. Cuma kalau versi dia, muffin vanila
chocochips.
Menyesuaikan dengan bahan-bahan di dapur, jadilah versiku sendiri, muffin cokelat kismis. Itu pun beberapa bahannya ngerampok punya Indah ;p.
Bahan-bahannya simpel aja:
- 200 gr terigu protein sedang (serbaguna)
- 1 sdm baking powder
- ½ sdt baking soda (boleh pake boleh enggak, aku nggak pake)
- 125 gram gula pasir (bagusnya yang berbutir halus alias gula kastor)
- 100 gram margarin, lelehkan
- ¼ sdt esens/pasta vanila (aku pake vanili bubuk)
- 1 butir telur kocok lepas
- 150 ml susu cair
- kismis secukupnya (bisa diganti apa cokelat chips, keju, dll)
Aku bikin setengah resep, biar sekali manggang doang. Trus susunya pake susu cokelat, tepungnya aku kurangi tapi aku tambah serbuk minuman cokelat.
Cara membuatnya:
- Campur bahan kering: tepung terigu, baking powder, bubuk vanili, gula pasir.
- Di tempat terpisah, campur margarin cair, telur, dan susu. Lalu tuang ke campuran bahan kering.
- Aduk dengan ballon whisk atau spatula, nggak usah lama-lama. Sampai adonan bertekstur kek lumpur.
- Masukkan ke cetakan muffin. Aku memberdayakan apa yang ada aja. Jadi adonannya kumasukin di cetakan bolu kukus yang udah dialasi cup kertas. Trus panggang deh di oven dengan suhur 180-200 derajat celsius sampai matang.
Oya, untuk acara timbang-menimbang emang sedikit ribet soalnya nggak ada timbangan, tapi bisa teratasi kok. Sebelumnya aku udah ngeprint konversi
ukuran. Misalnya 1 sdm tepung itu berapa gram, 1 cup tepung itu berapa gram,
dan seterusnya.
Jadi kalau mau bikin setengah resep, ya bagi dua aja, masing-masing baha perlu berapa gram. Lalu ”nimbang”-nya pake sendok atau cup. Tentu nggak bisa presisi ya. Tapi nggak papalah. Nah kalau mau tau lebih lengkap tentang konversi ukuran dari gram ke sendok makan/cup, klik kamus dapur ini ya.
Trus gimana dengan eksperimen muffinnya? Hasilnya bener-bener di luar dugaan. Padaal mestinya muffin itu antigagal ya. Tinggal campur-campur pasti jadi. Tapi muffinku setelah 20-an menit dipanggang di suhu 200 derajat celsius kok ajaib ya? Awalnya adonan udah ngembang bagus, tapi pas dites tusuk pake lidi masih cair. Hiks. Salah di mana yaaa? Akhirnya aku tambah terus aja waktu manggangnya. Akhirnya memadat, tapi nggak bisa menggunung layaknya muffin. Datar aja gitu setinggi cetakan. Penampakan permukaannya malah kek kue karamel.
Apa karena aku pake cetakan bolu kukus ya? Tapi sebelumnya udah browsing-browsing, gak masalah pake cetakan bolu kukus dialasin cup kertas selama bolong2nya ketutup. Atau, karena aku nyampurin serbuk minuman cokelat ya? Atau adonannya terlalu cair? Sepertinya nggak juga sih. Ah puyeng.
Yang mengejutkan, tekstur kuenya empuk dan enggak padat. Beda ama muffin yang padat, ini terasa lebih ringan dan berongga. Cuma kismisnya mengendap semua di dasar cup. Pas dimakan keesokan harinya, tekturnya jadi lebih padat, tapi tetep empuk untuk ukuran muffin. Jadi walopun gagal, aku masih terhiburlah.
Menyesuaikan dengan bahan-bahan di dapur, jadilah versiku sendiri, muffin cokelat kismis. Itu pun beberapa bahannya ngerampok punya Indah ;p.
Bahan-bahannya simpel aja:
- 200 gr terigu protein sedang (serbaguna)
- 1 sdm baking powder
- ½ sdt baking soda (boleh pake boleh enggak, aku nggak pake)
- 125 gram gula pasir (bagusnya yang berbutir halus alias gula kastor)
- 100 gram margarin, lelehkan
- ¼ sdt esens/pasta vanila (aku pake vanili bubuk)
- 1 butir telur kocok lepas
- 150 ml susu cair
- kismis secukupnya (bisa diganti apa cokelat chips, keju, dll)
Aku bikin setengah resep, biar sekali manggang doang. Trus susunya pake susu cokelat, tepungnya aku kurangi tapi aku tambah serbuk minuman cokelat.
Cara membuatnya:
- Campur bahan kering: tepung terigu, baking powder, bubuk vanili, gula pasir.
- Di tempat terpisah, campur margarin cair, telur, dan susu. Lalu tuang ke campuran bahan kering.
- Aduk dengan ballon whisk atau spatula, nggak usah lama-lama. Sampai adonan bertekstur kek lumpur.
- Masukkan ke cetakan muffin. Aku memberdayakan apa yang ada aja. Jadi adonannya kumasukin di cetakan bolu kukus yang udah dialasi cup kertas. Trus panggang deh di oven dengan suhur 180-200 derajat celsius sampai matang.
Jadi kalau mau bikin setengah resep, ya bagi dua aja, masing-masing baha perlu berapa gram. Lalu ”nimbang”-nya pake sendok atau cup. Tentu nggak bisa presisi ya. Tapi nggak papalah. Nah kalau mau tau lebih lengkap tentang konversi ukuran dari gram ke sendok makan/cup, klik kamus dapur ini ya.
Trus gimana dengan eksperimen muffinnya? Hasilnya bener-bener di luar dugaan. Padaal mestinya muffin itu antigagal ya. Tinggal campur-campur pasti jadi. Tapi muffinku setelah 20-an menit dipanggang di suhu 200 derajat celsius kok ajaib ya? Awalnya adonan udah ngembang bagus, tapi pas dites tusuk pake lidi masih cair. Hiks. Salah di mana yaaa? Akhirnya aku tambah terus aja waktu manggangnya. Akhirnya memadat, tapi nggak bisa menggunung layaknya muffin. Datar aja gitu setinggi cetakan. Penampakan permukaannya malah kek kue karamel.
Apa karena aku pake cetakan bolu kukus ya? Tapi sebelumnya udah browsing-browsing, gak masalah pake cetakan bolu kukus dialasin cup kertas selama bolong2nya ketutup. Atau, karena aku nyampurin serbuk minuman cokelat ya? Atau adonannya terlalu cair? Sepertinya nggak juga sih. Ah puyeng.
Yang mengejutkan, tekstur kuenya empuk dan enggak padat. Beda ama muffin yang padat, ini terasa lebih ringan dan berongga. Cuma kismisnya mengendap semua di dasar cup. Pas dimakan keesokan harinya, tekturnya jadi lebih padat, tapi tetep empuk untuk ukuran muffin. Jadi walopun gagal, aku masih terhiburlah.
Tuesday, April 9, 2013
Makaroni Skutel Cemplang-Cemplung Sehat
Uji coba selanjutnya dengan oven baru adalah bikin makaroni skutel. Resepnya tentu nyari yang paling praktis, yang bahan-bahannya ada di dapur daruratku. Alhamdulillah, nemu resep di dapur Cooking with Love punya Mbak Yulyan (Eeyand). *Nyontek ya Mbak :)*
Makaroni ala Mbak Eeyand ini bener-bener praktis banget, nggak pake ribet. Bahannya cuma makaroni, susu, keju, kornet, lada bubuk, pala bubuk, ama garam. Dalam rangka menjaga pola hidup sehat, aku pake susu cair rendah lemak, trus numis kornetnya pake minyak zaitun, loh. Kejunya sih tetep pake keju biasa.
Oya, pas bikin makaroni ini ada "kecelakaan", dong. Saking cemplang-cemplungnya, aku salah ambil bumbu kari yang aku taroh di deket pala dan lada. Untung ga terlalu banyak ketuangnya. Coba kalow banyak, rasanya bisa ngalor ngidul kali ya.
Btw, kalau diliat-liat penampakan topping kejunya, ada yang ajaib nggak sih? Ya, karna nggak ada parutan, kejunya aku cincang aja. Dan karna males juga cincangin keju, sedikit doang yang buat topping. Selebihnya aku potong kecil-kecil dicampur di makaroni. Walopun darurat dan asal cemplang cemplung, rasanya enak loh.
Makaroni ala Mbak Eeyand ini bener-bener praktis banget, nggak pake ribet. Bahannya cuma makaroni, susu, keju, kornet, lada bubuk, pala bubuk, ama garam. Dalam rangka menjaga pola hidup sehat, aku pake susu cair rendah lemak, trus numis kornetnya pake minyak zaitun, loh. Kejunya sih tetep pake keju biasa.
Oya, pas bikin makaroni ini ada "kecelakaan", dong. Saking cemplang-cemplungnya, aku salah ambil bumbu kari yang aku taroh di deket pala dan lada. Untung ga terlalu banyak ketuangnya. Coba kalow banyak, rasanya bisa ngalor ngidul kali ya.
Btw, kalau diliat-liat penampakan topping kejunya, ada yang ajaib nggak sih? Ya, karna nggak ada parutan, kejunya aku cincang aja. Dan karna males juga cincangin keju, sedikit doang yang buat topping. Selebihnya aku potong kecil-kecil dicampur di makaroni. Walopun darurat dan asal cemplang cemplung, rasanya enak loh.
Sunday, April 7, 2013
Puding Roti Rendah Lemak
Hip hip hurayyyy...! Akhirnya kesampaian beli oven listrik! Oven imut Kirin KBO 190-RA kapasitas 19 liter jadi pilihan mengingat harganya ekonomis dan ukurannya nggak terlalu makan tempat di kontrakan baruku yang muat dua orang tapi nggak bisa dibilang luas :p. Aku belinya online di Toko Perabotan. Pesen jam 10-an pagi, sebelum jam 12 siang udah nyampe loh. Keren yaaa, nggak perlu capek-capek, barang datang dengan sendirinya, eh dianter kurir ding.
Langsung nggak sabar buat nyobain. Jadi, walaupun perlengkapan baking masih diungsikan di rumah kakak, semangat nyobain oven baru tetap berkobar. Mulailah aku hunting resep yang nggak ribet.
Berhubung belakangan ini lagi getol makan roti tawar gandum buat sarapan, jadi terpikir buat bikin puding roti tawar. Kan nggak perlu mikser sama loyang macem-macem tuh. Bahan-bahannya juga gampang.
So, keesokan harinya, aku belanja di Super Indo di Jalan Pos Pengumben. Seneng deh, tempat tinggalku sekarang strategis *dari dulu selalu strategis sih*. Ke kantor tinggal sekali angkot (naek sepeda juga bisa), tempat makan banyak dan enak-enak, minimarket deket, supermarket pun nggak jauh. Beli Aqua galon juga tinggal jalan beberapa langkah ke warung, dan kita nggak perlu repot nggotong sendiri. Trus, yang lebih nyenengin lagi, deket ama toko kue dan jajan pasar. Gimana nggak bahagia coba? Tapi meskipun suka, semoga nggak lama-lama di sini, ya. Pengennya segera bisa tinggal di rumah sendiri dengan dapur yang luas biar bebaaas masak dan bikin kue.
Hmm, kebiasaan deh curcol. Well, di supermarket, semua bahan (kecuali kayu manis bubuk) bisa kudapetin. Pulangnya, aku nyari kayu manis bubuk di minimarket deket rumah, nggak ada juga. Adanya kayu manis batangan *eh sebenernya kulit ya?*. Ya wes, daripada nggak ada, beli ajalah. Taunya numbuk kayu manis pake hand blender yang belinya nitip Indah di Belanda itu susah juga. Nyiprat ke mana-mana. Mangkoknya emang seadanya sih, kurang cekung. Udah ribet-ribet begitu belakangan Indah cerita kalow sebenernya dia punya kayu manis bubuk. Aiiih.
Oke semua bahan udah siap. Aku nyontek resep dari blog Simply Cooking and Baking dengan berbagai modifikasi dan takaran kira-kira soalnya belum ada timbangan. Yang dalam kurung itu versiku ya.
Bahan:
2 lembar roti tawar, potong kotak (aku pake 3 lembar roti tawar gandum)
2 butir telur
80 gr gula pasir (3 1/2 sendok makan)
240 ml susu cair (250 ml susu cair rendah lemak tinggi kalsium)
1/2 sdt kayu manis bubuk (gak sampe 1/2 sdt berubung susah ngalusin)
Taburan:
1 sdm kismis atau secukupnya
almond slice secukupnya (aku ganti gula palem)
Cara bikin:
* Aduk telur dan gula sampe gula larut (aku pake sendok doang), tuangi susu sedikit demi sedikit sambil diaduk sampe rata, kasih kayu manis bubuk, aduk.
* Atur roti tawar di loyang aluminium foil atau pinggan tahan panas. Tuang adonan susu sambil ditekan-tekan pake garpu, biarkan roti terendam.
* Taburkan kismis di atasnya. Panggang di oven 180 derajat celsius selama 38-45 menit atau sampe matang. Gula palemnya aku taburin di sekitar menit ke-25. Trus 10 menit terakhir aku pake api bawah dan atas barengan.
* Angkat, dinginkan, simpan di kulkas. Konon lebih enak disajikan dingin, tapi pas aku colek anget-anget enak juga kok hehe.
Testimoni dari para tester, pudingnya enak, nggak terlalu manis. Menurutku juga begitu. Aroma kayu manisnya samar-samar ada, padaal kalow sesuai takaran pasti lebih mantep tuh.
Pudingnyan jadi 4 loyang aluminium foil oval, dan itu udah memenuhi nampan oven imutku. Emang ovennya gak bisa buat manggang banyak-banyak. Beda jauh ama oven tangkringku dulu. Tapi kalau mau bawa oven tangkringku itu berarti nekat . Orang pas aku pamer beli oven listrik ama salah satu temen aja dia bilang, "Rumah sekecil itu, ovennya ditaruh mana?"
Tapi, walopun kecil, aku happy karna bisa baking lagi. Target selanjutnya mengangkut kembali sebagian perlengkapan baking-ku, trus beli timbangan digital. Hmm, gajian masih lama ya? :))
Langsung nggak sabar buat nyobain. Jadi, walaupun perlengkapan baking masih diungsikan di rumah kakak, semangat nyobain oven baru tetap berkobar. Mulailah aku hunting resep yang nggak ribet.
Berhubung belakangan ini lagi getol makan roti tawar gandum buat sarapan, jadi terpikir buat bikin puding roti tawar. Kan nggak perlu mikser sama loyang macem-macem tuh. Bahan-bahannya juga gampang.
So, keesokan harinya, aku belanja di Super Indo di Jalan Pos Pengumben. Seneng deh, tempat tinggalku sekarang strategis *dari dulu selalu strategis sih*. Ke kantor tinggal sekali angkot (naek sepeda juga bisa), tempat makan banyak dan enak-enak, minimarket deket, supermarket pun nggak jauh. Beli Aqua galon juga tinggal jalan beberapa langkah ke warung, dan kita nggak perlu repot nggotong sendiri. Trus, yang lebih nyenengin lagi, deket ama toko kue dan jajan pasar. Gimana nggak bahagia coba? Tapi meskipun suka, semoga nggak lama-lama di sini, ya. Pengennya segera bisa tinggal di rumah sendiri dengan dapur yang luas biar bebaaas masak dan bikin kue.
Hmm, kebiasaan deh curcol. Well, di supermarket, semua bahan (kecuali kayu manis bubuk) bisa kudapetin. Pulangnya, aku nyari kayu manis bubuk di minimarket deket rumah, nggak ada juga. Adanya kayu manis batangan *eh sebenernya kulit ya?*. Ya wes, daripada nggak ada, beli ajalah. Taunya numbuk kayu manis pake hand blender yang belinya nitip Indah di Belanda itu susah juga. Nyiprat ke mana-mana. Mangkoknya emang seadanya sih, kurang cekung. Udah ribet-ribet begitu belakangan Indah cerita kalow sebenernya dia punya kayu manis bubuk. Aiiih.
Oke semua bahan udah siap. Aku nyontek resep dari blog Simply Cooking and Baking dengan berbagai modifikasi dan takaran kira-kira soalnya belum ada timbangan. Yang dalam kurung itu versiku ya.
Bahan:
2 lembar roti tawar, potong kotak (aku pake 3 lembar roti tawar gandum)
2 butir telur
80 gr gula pasir (3 1/2 sendok makan)
240 ml susu cair (250 ml susu cair rendah lemak tinggi kalsium)
1/2 sdt kayu manis bubuk (gak sampe 1/2 sdt berubung susah ngalusin)
Taburan:
1 sdm kismis atau secukupnya
almond slice secukupnya (aku ganti gula palem)
Cara bikin:
* Aduk telur dan gula sampe gula larut (aku pake sendok doang), tuangi susu sedikit demi sedikit sambil diaduk sampe rata, kasih kayu manis bubuk, aduk.
* Atur roti tawar di loyang aluminium foil atau pinggan tahan panas. Tuang adonan susu sambil ditekan-tekan pake garpu, biarkan roti terendam.
* Taburkan kismis di atasnya. Panggang di oven 180 derajat celsius selama 38-45 menit atau sampe matang. Gula palemnya aku taburin di sekitar menit ke-25. Trus 10 menit terakhir aku pake api bawah dan atas barengan.
* Angkat, dinginkan, simpan di kulkas. Konon lebih enak disajikan dingin, tapi pas aku colek anget-anget enak juga kok hehe.
Testimoni dari para tester, pudingnya enak, nggak terlalu manis. Menurutku juga begitu. Aroma kayu manisnya samar-samar ada, padaal kalow sesuai takaran pasti lebih mantep tuh.
Pudingnyan jadi 4 loyang aluminium foil oval, dan itu udah memenuhi nampan oven imutku. Emang ovennya gak bisa buat manggang banyak-banyak. Beda jauh ama oven tangkringku dulu. Tapi kalau mau bawa oven tangkringku itu berarti nekat . Orang pas aku pamer beli oven listrik ama salah satu temen aja dia bilang, "Rumah sekecil itu, ovennya ditaruh mana?"
Tapi, walopun kecil, aku happy karna bisa baking lagi. Target selanjutnya mengangkut kembali sebagian perlengkapan baking-ku, trus beli timbangan digital. Hmm, gajian masih lama ya? :))
Saturday, December 29, 2012
Hasil Kursus: Sponge Cake Bantat!
Sabtu, 22 Desember lalu, aku kursus cake dasar di NCC, Matraman, dengan pengajar Bu Fatmah Bahalwan yang terkenal ituh. Sebenernya udah lama aku pengen kursus di sana, tapi gak kesampean mulu. Dan, sebagai hadiah akhir tahun kali ini, biar ada cerita, biar ada progres, maka aku bertekad untuk kursus.
Untuk kursus ini, aku bela-belain pesen libur ama bos di kantor. Banyaaaak banget yang didapet dari kursus. Mulai dari tips milih bahan, teknik mengaduk adonan, dan laen-laen. Lebih lengkapnya ntar deh di tulisan terpisah. Ada videonya juga, soooo dont miss it ya :))
Nah sekarang aku mau pamer hasil praktekku seabis kursus. Semangat dooong pengen praktekin ilmu yang udah didapet. Aku bikin resep sponge cake NCC, setengah resep aja. Soalnya mikser yang ada di rumah kakak cuma mikser Philips.
Ternyata kinerja mikser emang sangat ngefek. Dengan stand mixer merek Kenwood punya Bu Fatmah, adonan kental bisa didapet dalam hitungan sekitar 20 menit saja (atau kurang ya?). Nah dengan mikser Philips, udah setengah jam lebih kok nggak kental-kental. Sampe ngilu rasanya lenganku. Saking semangatnya, ngemiksernya pake tangan looh. Setelah hampir 45 menit baru deh kental.
Step-stepnya menurutku udah sesuai dengan petuah Bu Fatmah, kek memasukkan tepung dengan diayak sedikit demi sedikit. Begitu pula pas masukin margarin cair.
Entah kesalahan ada di mana, yang jelas hasilnya bantat. Mirip butter cake tapi enggak beremah. Padeeet deh pokoknya. Woaaa... kecewa tapi masih tetap penasaran. Ntar mo coba lagi deh. Mumpung masuk malem juga, jadi pasokan telur gratis dari kantor bakal mengalir lagi, hehe.
NB: yang ijo itu sponga cake buatan Bu Fatmah, nah yang kuning (padaal maksudnya pink loh!) itu hasil karyaku. Lihat bedanyaaaa :))
Untuk kursus ini, aku bela-belain pesen libur ama bos di kantor. Banyaaaak banget yang didapet dari kursus. Mulai dari tips milih bahan, teknik mengaduk adonan, dan laen-laen. Lebih lengkapnya ntar deh di tulisan terpisah. Ada videonya juga, soooo dont miss it ya :))
Nah sekarang aku mau pamer hasil praktekku seabis kursus. Semangat dooong pengen praktekin ilmu yang udah didapet. Aku bikin resep sponge cake NCC, setengah resep aja. Soalnya mikser yang ada di rumah kakak cuma mikser Philips.
Ternyata kinerja mikser emang sangat ngefek. Dengan stand mixer merek Kenwood punya Bu Fatmah, adonan kental bisa didapet dalam hitungan sekitar 20 menit saja (atau kurang ya?). Nah dengan mikser Philips, udah setengah jam lebih kok nggak kental-kental. Sampe ngilu rasanya lenganku. Saking semangatnya, ngemiksernya pake tangan looh. Setelah hampir 45 menit baru deh kental.
Step-stepnya menurutku udah sesuai dengan petuah Bu Fatmah, kek memasukkan tepung dengan diayak sedikit demi sedikit. Begitu pula pas masukin margarin cair.
Entah kesalahan ada di mana, yang jelas hasilnya bantat. Mirip butter cake tapi enggak beremah. Padeeet deh pokoknya. Woaaa... kecewa tapi masih tetap penasaran. Ntar mo coba lagi deh. Mumpung masuk malem juga, jadi pasokan telur gratis dari kantor bakal mengalir lagi, hehe.
NB: yang ijo itu sponga cake buatan Bu Fatmah, nah yang kuning (padaal maksudnya pink loh!) itu hasil karyaku. Lihat bedanyaaaa :))
Tuesday, November 20, 2012
Rotiii... Rotiii...
Bikin
kue udah pernah, walopun beberapa kali merekah yang tidak pada
tempatnya, atau kadang bantat, pernah juga gosong. Bikin kue kering juga
udah mayan bisa. Lebih sering berhasil daripada gagal. Bikin masakan dengan bumbu macem-macem yang mesti diulek pun pernah dijabanin. Nah, yang belom
pernah itu bikin roti. Setelah agak lama vakum di dapur, begitu ada
kesempatan uji coba lagi, aku bertekad bikin roti. Apalagi tetangga kubikel di kantor udah pernah nyoba juga, jadi nggak mau kalah dong.
Yaaa, aku udah siap dengan adegan nguleni yang memakan waktu lama dan menguras energi. Serius, nguleninya manual loh nggak pake mikser. Kalau selama ini kaki udah terlatih buat menggowes sepeda, sekarang saatnya melatih otot tangan. Hehehe...
Browsing sana-sana sini, buka-buka buku resep aneka roti, pilihan jatuh pada resep roti empuk (soft bread) NCC ciptaan Fatmah Bahalwan. Resepnya bisa diintip di sini ya.
Berubung baru sekali bikin, nggak berani bikin satu resep. Selain takut gagal, khawatir tangan terserang encok mendadak hehe. Lagian anggota pasukannya sedikit, setengah resep cukuplah.
Singkat kata singkat cerita, setelah nimbang-nimbang dan nyampur bahan, tibalah saat yang mendebarkan. Apa lagi kalo bukan nguleni adonan. Waaaah, bener-bener campur aduk rasanya, harap-harap cemas ini adonan bisa kalis nggak ya *lebay* Awal-awalnya adonannya agak lembek dan lengket di tangan. Sempet parno jangan-jangan kebanyakan air. Tapi kakak ipar menyemangati, katanya nggak papa. Lama-lama juga bakal kalis.
Ya sudah aku terusin aja. Tangan udah mulai pegel tapi belum ada tanda-tanda adonan kalis. Berbagai gaya udah dicoba, mulai dari nguleni sambil jongkok, duduk bersila, berdiri, pindah ke ruang makan, dll. Nguleni tepung 250 gram aja berlebihan gini yak. Akhirnya setelah 30 menitan, kalis juga adonannya. Alhamdulillaaaah, legaaaaa sekali rasanya. Adonan lalu dibentuk dan dikasi isi. Berubung udah mau maghrib, cepet-cepet aja. Dibentuk bulet doang, sementara buat isinya cuma ada kismis ama meses. Ya wes deh seadanya. Selese bulet-buletin, sambil nunggu mengembang, aku tinggal shalat. Abis maghrib mulai ngoven deh.
Saking penasarannya, baru sekitar 10 menit masuk oven udah diintipin mulu. Hahahaha, pengen tau gimana perkembangannya. Skitar menit ke-20 ditengokin lagi. Udah tercium bau-bau wangi roti, tapi masih putih aja. Eh setengah jam pun rotinya belom mulai berubah warna. Udah khawatir aja. Tapi kekhawatiranku berlebihan. Rotinya baik-baik aja kok, dan matang sekitar menit ke-45. Waaaah, lama pisan yaaa...
Keluar dari oven, waaaaooo...haruuum banget. Jadi nggak sabar buat nyobain. Langsung deh nyomot satu. Rotinya berserat haluuus, dan empuk pula. Kelezatan roti yang baru keluar dari oven itu emang bener-bener tiada tara. Terbayar sudah pegel-pegel nguleni adonan. Hahahaa..
Oya, sebenernya kalow baca-baca pengalaman para blogger bikin soft bread NCC ini, pengembangannya perlu dua kali, tapi di resep NCC kok cuma disebut sekali ya? Walopun hasilnya oke, jadi penasaran juga gimana hasilnya kalau adonannya dikembangin dua kali.
Setelah sukses bikin soft bread isi seadanya ini, aku berniat bikin roti lagi dengan isian yang lebih canggih, misalnya roti isi daging ayam atau roti abon Fire Floss ala Br**d T*lk yang terkenal itu. Trus bikin roti gandum, cinnamon roll, lalu selanjutnyaaaa, buka usaha bakery!!! Hahahaha...aamiin, semoga terkabul :)
Yaaa, aku udah siap dengan adegan nguleni yang memakan waktu lama dan menguras energi. Serius, nguleninya manual loh nggak pake mikser. Kalau selama ini kaki udah terlatih buat menggowes sepeda, sekarang saatnya melatih otot tangan. Hehehe...
Browsing sana-sana sini, buka-buka buku resep aneka roti, pilihan jatuh pada resep roti empuk (soft bread) NCC ciptaan Fatmah Bahalwan. Resepnya bisa diintip di sini ya.
Berubung baru sekali bikin, nggak berani bikin satu resep. Selain takut gagal, khawatir tangan terserang encok mendadak hehe. Lagian anggota pasukannya sedikit, setengah resep cukuplah.
Singkat kata singkat cerita, setelah nimbang-nimbang dan nyampur bahan, tibalah saat yang mendebarkan. Apa lagi kalo bukan nguleni adonan. Waaaah, bener-bener campur aduk rasanya, harap-harap cemas ini adonan bisa kalis nggak ya *lebay* Awal-awalnya adonannya agak lembek dan lengket di tangan. Sempet parno jangan-jangan kebanyakan air. Tapi kakak ipar menyemangati, katanya nggak papa. Lama-lama juga bakal kalis.
Ya sudah aku terusin aja. Tangan udah mulai pegel tapi belum ada tanda-tanda adonan kalis. Berbagai gaya udah dicoba, mulai dari nguleni sambil jongkok, duduk bersila, berdiri, pindah ke ruang makan, dll. Nguleni tepung 250 gram aja berlebihan gini yak. Akhirnya setelah 30 menitan, kalis juga adonannya. Alhamdulillaaaah, legaaaaa sekali rasanya. Adonan lalu dibentuk dan dikasi isi. Berubung udah mau maghrib, cepet-cepet aja. Dibentuk bulet doang, sementara buat isinya cuma ada kismis ama meses. Ya wes deh seadanya. Selese bulet-buletin, sambil nunggu mengembang, aku tinggal shalat. Abis maghrib mulai ngoven deh.
Saking penasarannya, baru sekitar 10 menit masuk oven udah diintipin mulu. Hahahaha, pengen tau gimana perkembangannya. Skitar menit ke-20 ditengokin lagi. Udah tercium bau-bau wangi roti, tapi masih putih aja. Eh setengah jam pun rotinya belom mulai berubah warna. Udah khawatir aja. Tapi kekhawatiranku berlebihan. Rotinya baik-baik aja kok, dan matang sekitar menit ke-45. Waaaah, lama pisan yaaa...
Keluar dari oven, waaaaooo...haruuum banget. Jadi nggak sabar buat nyobain. Langsung deh nyomot satu. Rotinya berserat haluuus, dan empuk pula. Kelezatan roti yang baru keluar dari oven itu emang bener-bener tiada tara. Terbayar sudah pegel-pegel nguleni adonan. Hahahaa..
Oya, sebenernya kalow baca-baca pengalaman para blogger bikin soft bread NCC ini, pengembangannya perlu dua kali, tapi di resep NCC kok cuma disebut sekali ya? Walopun hasilnya oke, jadi penasaran juga gimana hasilnya kalau adonannya dikembangin dua kali.
Setelah sukses bikin soft bread isi seadanya ini, aku berniat bikin roti lagi dengan isian yang lebih canggih, misalnya roti isi daging ayam atau roti abon Fire Floss ala Br**d T*lk yang terkenal itu. Trus bikin roti gandum, cinnamon roll, lalu selanjutnyaaaa, buka usaha bakery!!! Hahahaha...aamiin, semoga terkabul :)
Monday, October 29, 2012
Asem-asem Daging dan Curhat di FB
Mudik Idul Adha kemaren, aku ngerasa perlu membekali diri dengan tabloid resep edisi terbaru, yang antara lain berisi resep-resep olahan serba daging. Soalnya, sependek "karier" memasakku, belum pernah sekalipun aku masak daging sapi atau kambing. Biasanya tinggal hap. Tapi sekarang kan nggak bisa gitu lagi.
Sampe rumah dibaca-baca, nggak ada yang nyantol di hati *lebay*. Kalau nggak kebanyakan bumbu, ya ada satu-dua bumbu yang nggak bisa didapet. Akhirnya tabloidnya ditaruh aja, ganti ambil HP buat googling resep.
Aku nyari resep dengan kata kunci "asem-asem daging". Keknya kok seger gitu. Hasil pencariannya banyak banget, tapi ada satu yang paling mencuri perhatian, soalnyaaa... nggak banyak bumbu, nggak pake acara ngulek pula. Nanik banget kan? Hahaha, dasar nggak niat masak.
Resepnya aku dapet dari sini. Berikut ini versi lengkapnya ya.
Bahan-bahan/bumbu-bumbu:
400 gram daging sengkel, dipotong-potong
1.700 ml air
2 sendok teh air asam jawa
50 gram buncis, dipotong 3 cm
4 siung bawang putih, diiris tipis
8 butir bawang merah, diiris tipis
2 buah cabai merah, dipotong-potong
2 buah cabai hijau, dipotong-potong
2 lembar daun salam
2 cm lengkuas, dimemarkan
4 buah tomat hijau, dipotong-potong
3 sendok makan kecap manis
4 sendok teh garam
25 gram gula merah, disisir halus
1 sendok makan minyak untuk menumis
Cara pengolahan:
Persiapan dan proses masaknya lancar. Nggak ada insiden yang berarti, kecuali kelupaan beli buncis. Jadi asem-asem bikinanku ini full daging. Semua langkah sudah dilakukan sesuai resep. Udah dicicipin, rasanya endang bambang gulindang alias enak dan seger banget. Tapiiii, selalu ada tapi dalam setiap uji coba masakku, dagingnya kok alot yak. Udah aku kasi perpanjangan waktu pun masih juga nggak tambah empuk. Huaaa, syediiih. Karena penasaran, aku upload foto masakan ini ke FB, sekalian minta pendapat temen-temen (berharap sih Chef Juna yang ngasih komen, hahaa).
Dari hasil curhatku di FB, ada banyak pendapat/tips. Kata Mbak Astri Nugraha yang terkenal itu, mestinya daging direbus dulu sampe empuk sama bumbu rajangan, baru masuk bahan-bahan laen, semacam cabe rawit, tomat, dan buncis. Ada juga beberapa tips laen, misalnya masaknya pake panci presto, dagingnya dibungkus dulu sama daun pepaya yang udah diremes-remes sebelum dimasak (dibungkusnya 30 menitan). Ada lagi yang bilang dagingnya direbus dulu pake pepaya muda, baru dimasak sesuai selera. Lalu, Mbak Wiwien ngasi tips dari mbahnya, yaitu daging direbus ama pecahan piring keramik. Setelah empuk, baru pecahan piringnya diangkat. Yaiyalah, tar kemakan kan berabe, hehe.
Soal pecahan keramik, sodaraku yang orang kimia punya penjelasan. Kalo di analisis kimia, biasanya keramik dipake untuk menyimpan panas, jadi suhu di dalam panci lebih panas. Bisa juga sebenernya pake yang laen, misalnya sendok. Yang penting bisa jadi pengantar panas dan nggak bereaksi terhadap panas atau asam. Tapi untuk sendok (stainless steel) harus diperhatikan kualitas stainless steel-nya karena tar salah-salah malah menimbulkan hal yang berbahaya saat kena panas terus-terusan atau bereaksi dengan asam (cuka atau blimbing wuluh, misalnya). Ciyeeh, gayanya kek orang pinter kimia aja :p.
Oke deh, buat semua yang udah ngasi tips dan trik masak daging, makasih yaaa. Insya Allah berguna di laen waktu, makanya ditulis di sini biar nggak lupa. Curhat di FB emang efektif, asal nggak curcol-curcol geje :D.
Aku nyari resep dengan kata kunci "asem-asem daging". Keknya kok seger gitu. Hasil pencariannya banyak banget, tapi ada satu yang paling mencuri perhatian, soalnyaaa... nggak banyak bumbu, nggak pake acara ngulek pula. Nanik banget kan? Hahaha, dasar nggak niat masak.
Resepnya aku dapet dari sini. Berikut ini versi lengkapnya ya.
Bahan-bahan/bumbu-bumbu:
400 gram daging sengkel, dipotong-potong
1.700 ml air
2 sendok teh air asam jawa
50 gram buncis, dipotong 3 cm
4 siung bawang putih, diiris tipis
8 butir bawang merah, diiris tipis
2 buah cabai merah, dipotong-potong
2 buah cabai hijau, dipotong-potong
2 lembar daun salam
2 cm lengkuas, dimemarkan
4 buah tomat hijau, dipotong-potong
3 sendok makan kecap manis
4 sendok teh garam
25 gram gula merah, disisir halus
1 sendok makan minyak untuk menumis
Cara pengolahan:
- Rebus daging dan air sampai mendidih.
- Tumis bawang putih, bawang merah, cabai merah, cabai hijau, daun salam, lengkuas, dan tomat sampai harum.
- Tuang ke rebusan daging. Masak sampai mendidih. Tambahkan kecap manis, garam, dan gula merah. Aduk rata.
- Masukkan air asam dan buncis. Masak sampai matang.
Persiapan dan proses masaknya lancar. Nggak ada insiden yang berarti, kecuali kelupaan beli buncis. Jadi asem-asem bikinanku ini full daging. Semua langkah sudah dilakukan sesuai resep. Udah dicicipin, rasanya endang bambang gulindang alias enak dan seger banget. Tapiiii, selalu ada tapi dalam setiap uji coba masakku, dagingnya kok alot yak. Udah aku kasi perpanjangan waktu pun masih juga nggak tambah empuk. Huaaa, syediiih. Karena penasaran, aku upload foto masakan ini ke FB, sekalian minta pendapat temen-temen (berharap sih Chef Juna yang ngasih komen, hahaa).
Dari hasil curhatku di FB, ada banyak pendapat/tips. Kata Mbak Astri Nugraha yang terkenal itu, mestinya daging direbus dulu sampe empuk sama bumbu rajangan, baru masuk bahan-bahan laen, semacam cabe rawit, tomat, dan buncis. Ada juga beberapa tips laen, misalnya masaknya pake panci presto, dagingnya dibungkus dulu sama daun pepaya yang udah diremes-remes sebelum dimasak (dibungkusnya 30 menitan). Ada lagi yang bilang dagingnya direbus dulu pake pepaya muda, baru dimasak sesuai selera. Lalu, Mbak Wiwien ngasi tips dari mbahnya, yaitu daging direbus ama pecahan piring keramik. Setelah empuk, baru pecahan piringnya diangkat. Yaiyalah, tar kemakan kan berabe, hehe.
Soal pecahan keramik, sodaraku yang orang kimia punya penjelasan. Kalo di analisis kimia, biasanya keramik dipake untuk menyimpan panas, jadi suhu di dalam panci lebih panas. Bisa juga sebenernya pake yang laen, misalnya sendok. Yang penting bisa jadi pengantar panas dan nggak bereaksi terhadap panas atau asam. Tapi untuk sendok (stainless steel) harus diperhatikan kualitas stainless steel-nya karena tar salah-salah malah menimbulkan hal yang berbahaya saat kena panas terus-terusan atau bereaksi dengan asam (cuka atau blimbing wuluh, misalnya). Ciyeeh, gayanya kek orang pinter kimia aja :p.
Oke deh, buat semua yang udah ngasi tips dan trik masak daging, makasih yaaa. Insya Allah berguna di laen waktu, makanya ditulis di sini biar nggak lupa. Curhat di FB emang efektif, asal nggak curcol-curcol geje :D.
Subscribe to:
Posts (Atom)